.:Selamat Datang di Kholish Blog's. Situs Resmi Wahidul Kholish Assaumi:.

Jumat, 15 Juli 2011

Sejarah Kabupaten Muara Enim


Kali ini saya akan menuliskan sejarah tentang Kabupaten Muara Enim, yang mana saat ini orang tua saya berdomisili di Kabupaten Muara Enim. Walaupun orang tua saya termasuk juga saya sendiri tidak lahir di tanah Muara Enim, namun kecintaan saya akan daerah inilah yang mendorong untuk menuliskan sejarah Muara Enim, karena saya dan juga keluarga sudah belasan tahun menetap di Muara Enim.

Kabupaten Muara Enim adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan. Ibukota kabupaten ini terletak di Muara Enim. Wilayah kabupaten Muara Enim di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Musi Banyuasin, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Ogan komering ilir sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu. Luas wilayah Kabupaten Muara Enim 9.575 Km2 yang terbagi menjadi sebelas kecamatan.

Sejarah menyebutkan Kabupaten Muara Enim semasa pemerintahan Hindia Belanda, kebijakan dan politik pemerintahannya masih menggunakan sistem sentralisasi dibawah arus Etsche politik yang kemudian dikembangkan dalam sistem pemerintahan dekosentrasi. Dari dua sistem tersebut telah melahirkan beberapa marga-marga. Disepanjang Sungai Enim mulai dari Marga Semende Darat hingga Marga Tebelang patang Puluh Bububg dan marga-marga disepanjang Sungai Lematang yang digabung menajdi satu wilayah admiistrasi dengan marga Lematang Ilir yang berstatus otonomi daerah dengan kepala pemerintahannya disebut controlleur yang tunduk kepada Afdeeling Palembang Schebeven Lauden yang pada saat itu asisten residennya berkedudukan di Lahat.

Lalu pada masa kedudukan Jepang di ubah menjadi Lematang Simo Gunyang berada di Lahat Sico yang kemudian dibagi wilayah administrasi dengan nama Lematang Ogan Tengah. Pada masa perang fisik dikenal dengan nama Kewedanan Lematang Tengah yang wilayahnya meliputi 14 Marga dan sebagian besar Marganya dalam Onder Afdeeling Lematang Ilir dan sebahagian lagi dalam Onder Afdeeling Ogan Ulu dan Marga Pemerintahan Onder Afdeeling sekayu. Pada masa Proklamasi 17 Agustus 1945, Wilayah Lematang Ilir dan Wilayah Ogan tengah melalui keputusan Dewan Kepresidenan Palembang pada 20 November 1946 wilayah administrasi Kedewanan Lematang Ilir tidak tidak digabungkan lagi dengan Kabupaten Lahat, selanjutnya dijadikan administratif sendiri dengan Kedewanan diberi nama Lematang Ilir dan Lematang Ogan tengah yang disingkat LIOT.

Bertitik tolak dari sejarah tersebut dengan perda Kabupaten Muara Enim, Lematang Ilir Ogan Tengah dengan No. I/DPRED/1974 tangal 20 November 1974, ditetapkan menjadi Hari Jadi Kabupaten Muara Enim yang jatuh pada 20 November 1946.

Batu bara merupakan komoditas pertambangan yang memberi kontribusi cukup besar dalam memacu pertumbuhan ekonomi dan pendapatan daerah muara enim. Produksinya yang mencapai sekitar 10 juta ton per tahun sebagian besar dikonsumsi oleh kegiatan perlistrikan tenaga uap. Sementara cadangannya yang sekitar lima milyar ton masih cukup untuk puluhan tahun kedepan. Diluar potensi batu bara dan migas sebagai daya yang tidak bertahan lama, potensi ekonomi Muara Enim masih bisa bertumpu pada sektor pertanian dan pariwisata.

Dari luas wilayah 957,5 ribu hektar, 96,9 persen diantaranya merupakan lahan kering dan sisanya lahan sawah. Bisa dikatakan menanam padi bukanlah pilihan utama penduduk, melainkan pada usaha perkebunan. Subsektor perkebunan memiliki peluang berkembang yang pesat bahkan mungkin bisa menggeser dominasi sektor pertambangan beberapa tahun mendatang. Apalagi kalau areal bekas penambangan batu bara direklamasi dan ditanami tanaman perkebunan. Sejak tiga tahun lalu, selain komoditas utama perkebunan, tanaman perkebunan lainnya seperti tanaman nilam mulai dikembangkan. Peluang mengembangkan tanaman nilam yang digunakan sebagai bahan obat-obatan dan wewangian di Muara Enim ini semakin terbuka lebar karena tanaman ini bernilai jual tinggi di pasaran dunia.

Sementara di bidang pariwisata, Muara Enim mempunyai potensi wisata alam dan sejarah. Seperti air terjun Curug Tenang di Desa Bedegung Kecamatan Tanjung Agung, sumber air panas Gemuhak di Desa Penindaian Kecamatan Semendo, Curug Ambatan Pulau di Kecamatan Tanjung Agung, Danau Segayam di Kecamatan Gelumbang dan komplek percandian Kebun Undang yang berlatar belakang agama Hindu di Kecamatan Tanah Abang. Yang tak kalah menarik, bila kita memasuki Muara Enimdari Kota Palembang akan dijumpai pemandangan seperti perjalanan Jakarta Puncak. Di sepanjang perjalanan terdapat pondok-pondok pedagang yang menjual buah-buahan menurut panennya, seperti sawo, jeruk, nenas dan semangka.

Sumber: http://riansyach.blogspot.com/

0 komentar:

Poskan Komentar

Kholish Blog's on Facebook