.:Selamat Datang di Kholish Blog's. Situs Resmi Wahidul Kholish Assaumi:.
BannerFans.com

Rabu, 15 Juni 2011

Apakah Tuhan Ada?

Dalam sebuah pesta ulang tahun anak komunis yang kaya raya di rumahnya, ia sengaja mengumpulkan anak-anak di sekitarnya dan ingin merusak pola pikir mereka agar tidak mengenal Tuhan. Salah satu anak seorang kiai terkenal diundang juga. Setelah anak-anak kumpul, sang komunis berkata:

"Anak-anak sekalian, Om mau tanya, 'Apakah Tuhan itu ada?' Ayo jawab siapa yang bisa menjawab Om kasih uang 500 ribu."
"Tuhan itu ada Om," teriak salah seorang anak yang mengharapkan hadiah uang.
"Kalau ada, coba kamu minta uang sama Tuhan," ujar sang komunis menguji jawaban anak itu.Namun sang anak malah bingung dan diam.

"Kenapa diam? pasti Tuhan tidak memberi kamu uang kan? Nah, coba kalau kamu minta uang sama Om."
"Om, minta uangnya dong," ujar anak tadi.
Lalu sang komunis itu segera memberikan selembar uang 100-an ribu.
"Nah, jadi Tuhan itu tidak ada, karena tidak dapat memberi kalian uang. Setuju enggak."

"Setuju...!!" Teriak anak-anak itu lalu mereka minta uang. Sang komunis segera memberikan uang-uangnya.
Tiba-tiba terdengar jeritan, semua yang hadir menuju tempat tersebut. Ternyata anjing kesayangan sang komunis itu sedang sekarat akibat keracunan makanan. Sang komunis sangat sedih dan menangis.

"Maaf Om, bisakah Om menghidupkan anjing kesayangan Om itu?" tanya anak seorang kiai makrifat.
Sang komunis itu hanya terdiam sambil terus menangis. Lalu anak sang kiai itu berdoa dengan suara kencang.
"Ya Tuhan, tolonglah Om ini. Dia kebingungan karena anjingnya Kau buat sekarat. Ya Tuhan hidupkanlah anjing ini... karena aku yakin Tuhan itu ada."

Usai sang anak berdoa, dengan izin Tuhan, anjing yang sekarat itu mulai membaik. Semua yang hadir tersentak kaget. Sang komunis tersenyum senang.
"Ini nak, uang satu juta buat kamu. Karena kamu sudah menolong anjing Om," ujar sang komunis sambil memberikan uangnya.
"Tidak Om, terima kasih. Ternyata Tuhan itu memang ada, kan Om?" Kata sang anak itu lalu pergi pulang. Diikuti anak-anak yang lain sambil melempar uang 100 ribu yang dipegangnya.

Selasa, 03 Mei 2011

الأسئلة عن الفقه المقارن للسنة الثانية للبنين كلية الشريعة الاسلامية بالقاهرة

1) ) اذكر أراء الفقهاء في مشروعية عقد السلم مع الاستدلال لكل رأي و المناقشة و بيان الرأي الراجح في ذلك (ص. 304

2) ) إذا كان مسلم فيه مؤجلا بحسب الأصل فهل يصح أن يكون عقد السلم حالا؟ اذكر أراء الفقهاء في هذه المسألةمع الاستدلال و المناقشة و الترجيح! ( ص. 308

(3) هل عقد السلم من العقود الجائزة أم من العقود اللازمة؟ اذكر أراء الفقهاء في ذلك و أدلتهم مع المناقشة و الترجيح! (ص. 313

(4) إذا تغذرت التسليم المسلم فيه فهل ينفسخ عقد السلم؟ اذكر أراء الفقهاء في ذلك و أدلتهم مع المناقشة و الترجيح!( ص. 320

5) ) هل يدخل خيار الشرط في عقد السلم؟ اذكر أراء الفقهاء في ذلك و أدلتهم مع المناقشة و الترجيح!(ص. 322

6) ) اذكر أراء الفقهاء في مشروعية عقد الإجارة من عدمه ثم ناقشها مع الاستدلال و الترجيح في ذلك! 0(ص. 316

7) ) إن مات العاقد في عقد الإجارة فهل ينفسخ العقد أم لا؟ حرر مع الاستدلال و المناقشة و الترجيح!( ص. 331

8) ) هل يدخل خيار الشرط في عقد الإجارة، و لماذا؟ وضح رأيك بالتفصيل!( ص. 334

9) ) ما العيب المثبت للخيار في عقد الإجارة و هل يثبت الخيار أم لا؟ حدهما و ناقش هذه المسألة على ضوء دراسثك في فقه المقارن!(ص. 336

10) ) هل إذا ثبت للمستأجر الخيار وقت المعينو هل ينتهي بزمان محدد و إذا فُسخ العقد فهل يرتفع حكمه؟( ص. 338

11) ) هل يشترط في إجارة العين إن يكون المدة التالية للعقد أي متصلة به أم لا؟ اذكر أراء الفقهاء في ذلك مع الاستدلال و المناقشة و الترجيح!(ص. 344

12) ) هل يجوز الإجارة لتعليم القرآن و الآذان؟ اذكر أراء الفقهاء في هذه المسألة مع بيان الاستدلال و المناقشة لكل رأي و الترجيح!(ص.347

13) ) إذا تعذرت استفاء المنفعة شرعا، فهل ينفسخ عقد الإجارة أم لا؟ اذكر أراء الفقهاء في ذلك مع الاستدلال و الترجيح!(ص. 353

14) ) هل يعد العين المستأجر سببا لفسخ العقد و هل يقاس الغصب على التلف؟ اذكر أراء الفقهاء في غصب العين المستأجر مع الاستدلال و المناقشة و الترجيح!( ص.355

15) ) إذا فسد عقد الإجارة فهل يستوفي المستأجر المنفعة ولو فسد عقد الإخارة لمعنى الأجر فما قول الفقهاء في وجوب أجر الأصل من عدمه و ما الرأي الراجح في ذالك؟(ص. 358

16) ) ذهب بعض الفقهاء إلى عدم لزوم عقد الإجارة فما دليلهم على ذلك و كيف ترد على هذا الدليل و ما الرأي الراجح في هذه المسألة؟(ص. 361

17) ) إذا امتنع المؤجر عن التسليم محل المنفعة بعد المدة و أراد أن يسلمها فيما بقي من المدة فهل يثبت للمستأجر الخيار للفسخ؟ اذكر أراء الفقهاء في هذه المسألة مع الاستدلال و المناقشة و الترجيح!(ص. 365

18) ) اختلف الفقهاء فيما يملك به المؤجر الأجرة. اذكر أراء الفقهاء في ذلك مع الاستدلال و المناقشة و الترجيح!(ص. 377

19) ) من الأعذر التي تعتري عقد الإجارة و العذر راجع إلر المؤجر. مثل لهذا العذر ثم اذكر أراء الفقهاء مع الاستدلال و المناقشة و بيان الرأي الراجح في هذه المسألة!(ص.386

20) ) ذهب فريق من الفقهاء إلى عدم مشروعية عقد الوقف اذكر صاحب هذا الرأي ثم دليل على رأيه ثم اذكر الرأي الراجح في هذه المسألة!( ص. 391

21) ) اذكر أراء الفقهاء في لزوم عقد الوقف من عدمه مع بيان الدليل لكل رأي و الترجيح!(ص.393

22) ) إذا كان الموقوفف دار للسكن ثم تهدمت فهل يبقى عقد الوقف أم ينفسخ ؟ اذكر أراء الفقهاء في ذلك مع الاستدلال و الترجيح!(ص401.

Selasa, 19 April 2011

Ada SIPILIS dalam Film “?” (Tanda Tanya)

Oleh: Wahidul Kholis Assaumi



"Piring itu mau pakai porselen, pakai plastik atau pakai daun pisang, itu adalah medium. Nah, buat saya agama hanyalah medium. Substansinya saya bisa berdialog dengan Tuhan dan menghayati makna dari kata-kata Tuhan itu. Sebenarnya Tuhan itu ingin apa? Tuhan ingin berbuat apa? Pada waktu pembuatan film Ayat-Ayat Cinta saya selalu minta, gue mau ini, gue ingin itu. Tapi, apakah ini yang terbaik buat saya? Ternyata tidak. Jadi Tuhan memberikan sesuatu yang tidak saya minta, tapi itu yang terbaik buat saya. Dan buat saya, itu bukan sesuatu yang konvensional." (Hanung Bramantyo-Sutradara Film Ayat-ayat Cinta)
Ucapan sutradara Hanung yang dikutip dari hasil wawancara secara live antara Hanung dengan KBR68H pada tanggal 27 Oktober 2010 dan transkripnya dipublikasikan di situs resmi Jaringan Islam Liberal (JIL) ini jelas memberikan gambaran kepada kita bahwa jiwanya telah teracuni penyakit SIPILIS (sekularisme, pluralisme dan liberalisme) yang telah diharamkan melalui fatwa MUI tahun 2005.
Baru-baru ini tepatnya tanggal 6 april 2011 telah dirilis sebuah film yang membawa racun dan sangat merusak pemikiran umat Islam. Racun itu dibungkus dengan kemasan yang apik sehingga menipu banyak orang. Racun itu adalah pluralisme. Film ini oleh sang sutradara diberi nama “?” (Tanda Tanya). Dan sutradara itu tak lain adalah Hanung Bramantyo.
Sebenarnya apa itu pluralisme? Kenapa Islam mengharamkan pluralisme? Jika kita menelisik istilah plural dalam kamus bahasa Indonesia, di sana akan kita dapati dengan arti: bentuk jakam; jamak; banyak; ganda. Dan pluralisme diartikan dengan: teori yang mengatakan bahwa realitas terdiri dari banyak subtansi. Secara sederhana, pluralisme memiliki arti banyak menganut kepercayaan. Lantas di mana letak kesalahan dalam pluralisme ini? Mengapa pemahaman yang diusung oleh Hanung Bramantyo dalam filmnya ditentang dan diharamkan dalam Islam? Tak lain karena pluralisme yang dipahami saat ini adalah menyamakan semua agama yang ada di bumi ini dengan tujuan satu Tuhan.
Di Film “?” (Tanda Tanya), ada satu tokoh yang sangat mendominasi dari yang lain. Dia adalah Rika. Rika ditampilkan sebagai sosok ideal: murtad dari Islam, tapi toleran dan suka kerukunan. Pada segmen lain, Rika mengatakan, bahwa agama-agama ibarat jalan setapak yang berbeda-beda tetapi menuju tujuan yang sama, yaitu Tuhan. Kata Rika mengutip ungkapan sebuah buku, “… semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama; mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.” Mulanya, kemurtadan Rika tidak direstui ibunya. Anaknya yang muslim pun awalnya menggugat. Tapi, di penghujung film, Rika sudah diterima sebagai “orang murtad” dari Islam. Bahkan, ada juga yang memujinya telah mengambil langkah besar dalam hidupnya. Dan di film ini kemurtadannya tidak dipersoalkan. Padahal, dalam pandangan Islam, murtad adalah kesalahan besar. (dikutip dari situs resmi Dr. Adian Husaini; www.adianhusaini.com)
Tentu ini sanggat bertentangan dengan konsep akidah dan tauhid umat Islam. Di antara keyakinan pokok dalam Islam yang sudah pasti diketahui dan telah disepakati oleh seluruh (ulama) kaum muslimin (baca: ijma’) bahwa tidak ada di muka bumi ini agama yang paling benar selain agama Islam. Agama ini adalah penutup seluruh agama. Agama ini menghapus seluruh ajaran agama-agama sebelumnya. Tidak lagi tersisa di muka bumi yang menyembah Allah dengan benar selain agama Islam. Allah berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imron: 19)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)
Penulis sendiri sebenarnya belum menonton keseluruhan film ini, hanya melihat trailernya melalui youtube. Namun, menurut keterangan dan penjelasan dari berbagai sumber di antaranya adalah penjelasan dari MUI Pusat dan juga tokoh umat Islam Indonesia Dr. Adian Husaini. MUI Pusat melalui KH. Cholil Ridwan menyatakan film “?” ini menyebarkan paham haram dan sesat. Dan dalam situs resminya, Dr. Adian Husaini menuliskan bahwa film ini membawa pesan besar yang terlalu jelas: agama apa saja, sebenarnya sama saja! Agama-agama dipandang sebagai jalan setapak menuju Tuhan yang sama. Juga, agama-agama dianggap barang remeh; laksana baju, agama boleh ditukar dan kalau perlu dibuang kapan saja! Katanya, demi kerukunan, demi toleransi, dan demi perdamaian.
Di akhir tulisan ini, penulis ingin memberikan pesan bahwa penyakit SIPILIS telah disebarkan melalui film “?” ini. Oleh karenanya, kita harus berhati-hati jika film ini jadi beredar di pasaran, karena dampaknya akan sangat krusial bagi umat Islam terutama yang masih belum memahami Islam secara sempurna. Hendaknya juga kita senantiasa membentengi diri kita dan keluarga kita agar tidak terjangkit penyakit yang berdampak pada keislaman kita. Dan sangat tepatlah jika MUI mengharamkan ajaran pluralisme ini. Wallahu A'lam.

Senin, 28 Maret 2011

Kutipan perkataan As-Syahid Hasan Al-Banna



Kami bukanlah partai politik meskipun politik yang berdasarkan kaidah Islam merupakan inti fikrah kami. Kami juga bukan yayasan amal dan kebaikan sekalipun perbuatan baik dan perdamaian merupakan bagian dari tujuan utama kami. Demikian juga, kami bukanlah kelompok olahraga meski latihan jasmani dan ruhani menjadi wasilah terpenting kami. Kami, tidak satupun dari format di atas. Karena format tersebut, tidak lain dibentuk oleh tujuan-tujuan tertentu yang tematis untuk waktu yang terbatas. Format tersebut juga tak akan mengantarkan kami pada apapun kecuali semata keinginan bersatu dibawah nama dan gelar institusi tertentu.

Akan tetapi, kami, Wahai seluruh manusia, adalah: fikrah dan aqidah, aturan dan manhaj; yang tidak dibatasi oleh tema tertentu, tidak terkait oleh jenis tertentu, tidak disekat oleh batas-batas geografis, dan tak akan berhenti dengan capaian apapun hingga Allah mewariskan dunia dan seisinya.

Demikian itulah aturan Rabbul 'âlamîn, dan manhaj Rasûlun Amîn. Kami, tanpa berbangga-bangga, adalah penyerta Rasulullah Shalallâhu 'alaihi wa sallam; yang membawa bendera ini setelah beliau, menjunjung panji ini sebagaimana Rasul dan para sahabat menjunjungnya, memberitakannya sebagaimana mereka juga memberitakannya, menghapal dan menjaga Qurannya sebagaimana mereka menjaganya, dan menyebarkan dakwah ini sebagaimana mereka juga menyebarkannya. Dan, kami, sebagaimana mereka yang terdahulu, adalah rahmat bagi seluruh alam.

Kelak, sungguh kalian akan mengetahuinya.

Kamis, 06 Januari 2011

Hujan Kejutan di Musim Panas

Oleh : Wahidul Kholis Assaumi
05 Agustus 2009
“bang Taufiq, kapan kita berangkat? Katanya habis ashar? Koq dari tadi nggak berangkat-berangkat?” tanyaku yang mulai kesal. “habis ashar khan sampai maghrib, ente tunggu saja. Nanti kalau sudah kumpul semua, kita langsung berangkat” jawab bang Taufiq dengan enteng. Hufh… Sore itu aku benar-benar dibuat kesal dengan jam karet ala masisir . Janji sudah ashar, sampai pukul 17.30 pun belum juga berangkat. Lagi-lagi kulirik jam di handphoneku, rupanya sudah hampir 2 jam aku menunggu. Sesuai informasi yang aku terima dari ketua IPQI melalui kontak telpon, sore ini akan ada penampilan Ibtihalat perdana untuk periode 2009/2010 di Embaba .
“ayo semuanya, kita turun, mobil sudah menunggu di bawah.” ajak bang Sholah, ketua IPQI yang baru terpilih. Akhirnya penantianku berujung juga. Kami pun segera bergegas turun dari lantai 3 sekretariat IPQI Mesir di bilangan Distrik 10, Nasr City. Lengkap dengan seragam koko biru, ditambah dengan peci hitam khas Indonesia, kami berangkat menuju Embaba yang terletak di Provinsi Giza, bagian utara Mesir..
Aku tidak tahu seperti apa Embaba itu, apakah sebuah perkampungan, atau sama seperti Distrik 10 Nasr City, karena ini adalah awal perjalananku. Aku juga tidak tahu seperti apa penampilan yang akan kami tampilkan nanti, lagi-lagi karena ini adalah awal perjalananku. Aku bisa dibilang orang yang sangat beruntung, sejak bergabungnya aku di IPQI Mesir di awal Agustus, aku sudah dipercaya untuk ikut tampil di acara orang Mesir. Padahal waktu itu aku baru bergabung satu minggu. Awalnya ketika ketua IPQI menelponku, aku sempat terkejut, koq bisa orang yang baru bergabung seperti aku diajak nampil di acara orang Mesir. Ketika kutanya, acara apa, bang Sholah yang menelponku menjawab “acara Nisfu Sya’ban, dek. Kita butuh ente ne. Sekalian ente mengenal budaya Mesir.” Tidak butuh waktu lama untuk mengiyakan ajakan bang Sholah, ketika itu juga aku menyanggupinya, “insya Allah bang, aku ikut” jawabku dengan muka berseri-seri. “tapi apa yang mau ditampilkan bang? Aku kan belum banyak hafal teks sholawatnya” tanyaku. “santai aja. Nanti ikut saja yang hafal, gampang itu” balas bang Sholah.
Butuh waktu 30 menit untuk sampai di Embaba. Ketika sampai di tujuan, ternyata Embaba tidak jauh berbeda dengan Distrik 10, hanya saja di sana rumah-rumah penduduk tidak seperti di Distrik 10 tempat tinggalku di Mesir. Kalau di Distrik 10 rumahnya dengan sistem flat, semua bangunan rumah sama, tidak ada yang kurang dari 3 tingkat, semuany di atas 3 tingkat. Tapi kalau di Embaba, ada yang 2 tingkat untuk satu rumah, ada juga yang berflat-flat.
***
Setibanya di Embaba, kami disambut dengan hangat oleh masyarakat sekitar. Rombongan kami pun dipimpin langsung oleh Ustadz kami Dr. Ahmad Hilmi, MA. Ustadz Ahmad sangat akrab sekali dengan orang-orang Mesir. Bahasa Arab Ammiyah nya juga luar biasa lancar. Sempat terjadi guyonan ketika di perjalanan menuju Embaba, pasalnya selama di perjalanan Ustadz Ahmad selalu menggunakan bahasa Arab Ammiyah, sehingga sopir yang membawa kami pun mengira kalau Ustadz Ahmad ini asli orang Mesir. “enta mashry wala’eh? ” tanya sang sopir. “ayyua, ana mashry ” jawab Ustadz Ahmad dengan enteng. Kami pun seketika tertawa mendengar jawaban Ustadz Ahmad. “Wallah? Enta mashry? ” tanyanya lagi dengan raut muka penasaran. Ustadz Ahmad pun bertanyak balik. “Eih ro’yak ya kapten?” kemudian dijawab. “la’ah, wallah, enta musy mashry, shoh ?” Ustadz Ahmad pun hanya senyum sambil tertawa kecil. Seperti itulah Ustadz Ahmad, orang yang sudah lama sekali berada di Negeri Kinanah ini, hampir 20 tahun berkelana dan bergaul dengan orang Mesir, jadi bahasa dan gayanya pun seperti orang Mesir. Aku pun yang baru tiba di Mesir akhir April lalu masih sangat sulit sekali mengerti percakapan Ustadz Ahmad dan sopir mobil. Makanya tidak heran, ketika orang Mesir menyambut kami dengan begitu hangatnya, karena hubungan Ustadz Ahmad dan juga IPQI dengan orang-orang Mesir sangat baik.
***
Setelah selesei sholat maghrib, kami langsung diajak menuju tempat acara. Dari kejauhan, terlihat lampu warna warni menghiasi tempat acara. Lantunan ayat suci Al-Qur’an pun menggema dari kejauhan. Suasana malam di musim panas pun terasa begitu indah. Bintang-bintang di langit pun mulai bermunculan. Angin yang berhembus membelai tubuhku, terasa begitu sejuknya. Setelah sampai di tempat acara, muncullah kekagumanku dengan budaya Mesir. Tenda yang biasanya kalau di Indonesia selalu ada atapnya, namun sebaliknya, di Mesir tenda itu tertutup tanpa atap. Yang membuat tenda itu istimewa adalah terdapat ornamen-ornamen khas Mesir yang terpampang di sekeliling dinding tenda itu. Dan yang membuatku terkejut, ketika sampai di tempat acara, kami langsung dipersilahkan untuk menyantap hidangan khas Mesir. Ini adalah pertama kalinya aku menyantap hidangan khas Mesir, karena selama beberapa bulan di Mesir aku hanya makan masakan Indonesia. Menariknya, di setiap meja ada tungku api yang di atasnya daging yang sudah direbus terlebih dahulu. Jadi, rata-rata makanan yang ada di meja saat itu, tanpa ada minyak. Ini adalah pemandangan langka bagiku. Kulihat di sudut tenda, seorang pelayan minuman dengan santunnya menghantarkan minuman ke meja kami. Ada banyak macam minuman, mulai dari jus buah hingga teh hangat khas Mesir. Malam itu kami benar-benar seperti raja yang sangat dihormati dan dilayani dengan baik. Momen yang langka ini tentu tak kuabaikan begitu saja, sejurus kemudian kukeluarkan kamera handphoneku, dengan bantuan orang Mesir, kami abadikan momen langka itu. Sampai saat ini, foto itu tetap terjaga dengan baik. Satu hal lagi yang membuatku heran, malam itu bukan hanya acara Nisfu Sya’ban saja, ternyata ada acara pesta pernikahan. Pantas saja, hiasan-hiasan di sekitar tenda begitu meriah.
“Yallah ta’al!!! ’ kita tampil sekarang” ajak Ustadz Ahmad. Seketika diriku terkejut, kok baru sekarang tampilnya? Kenapa tidak tampil sebelum makan? Tanyaku dalam hati. Aku memang punya kebiasaan khusus dari Indonesia, ketika selesai makan, maka bagaimanapun juga aku tidak mau jika disuruh untuk tarik suara, khususnya Tilawah atau Ibtihalat. Bagiku itu adalah beban yang sangat berat, karena suara itu akan terasa berat ketika kita baru saja selesai makan. Tapi malam ini, tak bisa kuhindari. Jika tidak, aku akan kehilangan kesempatan langka yang tak bisa dimiliki oleh setiap orang, tampil di depan orang Mesir.
Kuamati di sekelilingku. Semua orang terpaku, terjurus dalam satu pandangan. Para punggawa IPQI yang berseragamkan koko biru menjadi pusat perhatian setiap orang yang ada saat itu. Kami bak artis, yang tampil di hadapan para penggemarnya. Kulihat di setiap sudut, terdapat kameraman yang meliput acara ini. Ternyata acara ini diliput oleh salah satu stasiun televisi di Mesir. Hatiku semakin bangga. Baru kali ini penampilanku diliput oleh stasiun televisi, dan yang lebih membanggakan, ini di luar negeri lho. Setelah diperkenalkan oleh MC, kami pun bersiap-siap dengan Ibtihalat andalan kami, al-Mukhtar . Jujur, saat itu hatiku bercampur antara senang dan takut. Senang bisa tampil di depan orang-orang Mesir, takut karena aku hanya hafal sebagian saja dari sholawat al-Mukhtar itu. Terdengar suara gemuruh para jama’ah ketika kami tampil. Mereka tak henti-hentinya meneriakkan kata-kata kebaikan, mendoakan kebaikan buat kami. Barakallah ya Syaikh, Allah yubarik fik, Allah yaftah alaik. Dan berbagai macam kalimat-kalimat kebaikan yang mereka lontarkan saat kami tampil. Suasana malam itu benar-benar membuatku terharu. Tak pernah kudapatkan sebelumnya.
Aku bersyukur sekali malam itu, pengalaman yang luar biasa telah aku dapatkan. Terlihat senyuman yang lebar dari Ustadz Ahmad, tampaknya beliau begitu bangga dengan kami, karena bisa tampil dengan sukses.
***
“Kamu ikut ke Aswan ya, kita besok tampil di sana” ucap Ustadz Ahmad. Kupastikan aku tidak salah dengar, kutanyakan lagi kepada Ustadz Ahmad. “yang benar ne Ustadz ana ikut ke Aswan?” tanyaku. “ya, malam ini kamu ikut ke Aswan. Kita berangkat jam 12 malam dari Ramsis.” Jawab Ustadz Ahmad. Subhanallah, malam itu benar-benar istimewa sekali bagiku. Aku yang baru sepekan bergabung di IPQI diberi kepercayaan untuk ikut tampil di Aswan. Aswan adalah sebuah Provinsi yang terletak di bagian Selatan Mesir dan juga berbatasan dengan Negara Sudan. Aswan merupakan Provinsi yang letaknya paling jauh dari Ibu Kota. Negara Mesir yang luas wilayahnya 997.739 km persegi atau lebih besar dari pulau Kalimantan ini menjadikan jarak tempuh antara Kairo-Aswan hanya 12 hingga 15 jam dengan menggunakan kereta api.
“siapa saja yang ikut ke Aswan, Ustadz?” tanyaku. “kamu, Sholah, Taufiq, Edo, dan Pak Hasan” jawab Ustadz Ahmad. “lho, Ustadz sendiri tidak ikut?” tanyaku lagi. “tidak, kalian berlima saja yang ke Aswan” jelas Ustadz Ahmad. Malam itu kami hanya berlima saja yang pergi ke Aswan. Kami berangkat dari Stasiun Kereta Api Ramsis dengan menumpangi Kereta Eksekutif. Jujur, ini adalah pertama kalinya dalam hidupku menumpangi kereta api. Selama di Indonesia, aku belum pernah sekalipun berpergian dengan kereta api.
***
06 Agustus 2009
Perjalanan pun dimulai. Tepat pukul 00.10 kami berangkat dari Ramsis menuju Aswan. Perlahan-lahan kereta yang kami tumpangi mulai bergerak meninggalkan Kairo. Malam itu menjadi momen bersejarah dalam hidupku. Kulihat kertas persegi empat yang diberikan bang Sholah padaku. “ini tiketnya, jangan sampai hilang ya” pesannya. Kuamati satu persatu kata-kata yang ada di tiket itu. Ketika sampai pada kata tujuan, kuamati lagi dengan seksama. “bang, ini tujuannya benar ke Darau?” tanyaku. “iya, kita hanya di Darau, bukan Aswan. Jangan takut, nanti kita main ke Aswan, karena jaraknya tidak jauh dari Darau, cukup 15 menit saja dengan tremco ” jawab bang Sholah. “hah!!!, jadi kita ke Darau, bukan ke Aswan, bang?” Bang Sholah hanya tersenyum.
Ada kekecewaan dalam hatiku, karena dari awal aku mengira akan tampil di Aswan. Aku pernah mendengar cerita kakak-kakak senior IPQI, tampil di Aswan adalah hal yang paling menyenangkan. Selain itu juga bisa berwisata di sekitar Aswan. Itulah yang menjadi kekecewaanku. Namun kekecewaan itu tidak berlangsung lama, karena aku ingat bahwa perjalananku ini adalah yang pertama, dan ini tidak sembarang orang bisa mendapatkannya. Aku pun tak ingin menjadi orang yang kufur nikmat. Satu hal lagi, perjalananku ini gratis, karena dibiayai oleh pihak penyelenggara di Darau.
“dihafalkan ya, ini sholawat yang akan kita baca besok” tegur bang Sholah sambil memberikan kertas kumpulan sholawat. Di sepanjang perjalanan, aku sibuk menghafalkan sholawat yang belum aku hafal. Ada satu hal yang membuat tidak nyaman di perjalanan, AC kereta malam itu tidak bisa dikecilkan apalagi dimatikan. Wal hasil, aku pun berjuang dengan satu sorban yang dipinjamkan bang Sholah untuk melawan dinginnya AC. Kulirik jam di handphoneku, pukul 01.35. Kulihat suasana di luar, kebetulan aku mendapat bangku yang berada di samping jendela. Rasa kantuk pun mulai menyerang, kurebahkan badanku, aku pun tertidur.
***
Dingin AC itu lagi-lagi membuat mataku tersiksa. Aku tak bisa tidur. Berkali-kali kulipatkan kaki dan badanku agar terasa hangat, namun rasa dingin itu tetap saja menyerangku. Aku hanya bisa pasrah. Kulirik lagi jam di handphoneku. Ternyata tinggal beberapa menit lagi waktu subuh. Kutengok abang-abangku, mereka juga sepertinya tak bisa tidur karena dinginnya AC malam itu. Ada yang sibuk dengan MP3nya, ada yang sibuk berchating ria, ada juga yang menikmati dinginnya AC. Kulihat pula pak Hasan, ternyata beliau saja yang bisa tidur nyenyak, karena menggunakan jas hitamnya untuk menyelimuti tubuh. Setelah sholat subuh pun, dinginnya AC masih terasa. Tak ada pilihan lain, selain kupaksakan mataku untuk tidur.
Silaunya cahaya matahari pagi yang mulia menyinari alam jagad raya ini membangunkanku dari tidur. Kulirik jam di handphoneku, 08.35. kulemparkan pandanganku ke luar melalui jendela. Terpampang luas bukit-bukit tandus tanpa penghuni di sepanjang rel yang kulalui. Ini adalah pemandangan langka bagiku. Hanya sesekali terdapat rerumputan yang berubah warnanya menjadi kuning kecoklatan. Sungguh pemandangan yang belum pernah kutemukan sebelumnya di Indonesia.
***
“lagi di perjalanan menuju Darau, Aswan” tulisku di status Yahoo! Messenger dan jejaring sosial Facebook via handphoneku. Kunikmati pagi itu dengan berchating ria, juga berbalas komen di status facebookku. Berbagai reaksi dari teman-teman facebook. Ada yang memberikan doa selamat, ada yang hanya memberikan jempolnya. Sangking seringnya handphoneku untuk chating, tak terasa batrainya lemah. Tak lama kemudian, handphoneku non-aktif alias mati. Kubangunkan badanku, kulihat abang-abangku yang sebagian masih terlelap tidur. Tapi aku tak mendapatkan pak Hasan dan bang Sholah di kursinya. Kemanakah mereka? tanyaku dalam hati. Kudengar sayup-sayup dari belakang gerbong kereta, sepertinya ada orang yang sedang melantunkan Ibtihalat. Kutelusuri suara itu, ternyata pak Hasan dan bang Sholah sudah berada di kantin kereta. Kulihat di sekeliling kantin, orang-orang Mesir khusyuk mendengarkan Ibtihalat yang dilantunkan bang Sholah. Aku pun bergabung dengan mereka, sejurus kemudian disodorkannya teh hangat oleh penjaga kantin.
“ayo semuanya, siap-siap, sebentar lagi kita akan sampai di mahatthah Darau” ajak pak Hasan. Perlahan kereta yang kami tumpangi mulai melambat, dan berhenti. Para penumpang pun mulai keluar meninggalkan kereta. Kulihat jam dinding di stasiun, 12.30.
“Allah, panasnya luar biasa” ucapku dengan mata menyipit. Aku tak menyangka begitu panasnya udara saat itu. Aku merasakan ada api di depan mukaku, karena sangking panasnya. Apalagi ditambah angin yang bertiup saat itu. Serasa terbakar mukaku. Untung aku mengalungkan sorban, jadi sorban itu aku buat untuk melindungi sengatan langsung matahari. Ternyata panas di Kairo belum seberapa dibandingkan dengan panasnya Darau.
Kulihat di pinggir jalan, mobil matrix menunggu kami. “kita sekarang akan menuju ke rumah Sayyid Idris, kita akan menginap beberapa hari di sana” jelas pak Hasan. Menurut pak Hasan, Sayyid Idris masih keturunan dari Rasulullah SAW. yang tinggal di Mesir. Satu lagi kejutan yang menggembirakan hatiku. Aku akan bertemu dengan keturunan Rasulullah SAW., walaupun jaraknya dengan Rasulullah SAW. sangat jauh. Butuh waktu 10 menit untuk sampai ke kediaman Sayyid Idris dari stasiun kereta. Tampak di halaman depan rumah orang-orang yang sibuk memasang tenda. Ketika sampai di kediaman Sayyid Idris, yang pertama kali aku lihat, sebuah bangunan yang mirip seperti pesantren di Indonesia, terdapat bedeng-bedeng kamar yang dihuni oleh orang-orang dewasa. Aku sempat bingung, sebenarnya ini tempat penampungan pengungsi atau semacam pemondokan seperti pesantren-pesantren yang ada di Indonesia.
Seperti biasa, ketika sampai di tempat, kami langsung dipersilahkan untuk makan siang. Kali ini menunya tak jauh beda dengan makanan yang dihidangkan di Embaba, hanya saja tidak ada tungku api dengan daging di atasnya. Semua sudah tersaji dengan rapi. Sejurus kemudian, semuanya terhanyut dalam kelazatan makanan khas Mesir.
***
“setelah ini kita istirahat, karena nanti malam kita akan tampil” ucap pak Hasan. “kamu jangan lupa dihafalin lagi sholawatnya yang belum hafal, oke” tambah pak Hasan. “siap pak, insya Allah nanti malam sudah hafal” jawabku.
Tak pernah kubayangkan sebelumnya, betapa panasnya udara di sini. Angin yang berhembus pun seperti tiupan api yang menjalar ke tubuh. Untungnya siang itu kami langsung ditempatkan di kamar khusus untuk tamu yang ber-AC.
Tak terasa adzan ashar pun berkumandang. Kubangkitkan badanku, untuk segera menunaikan sholat ashar berjama’ah. Setelah sholat ashar, aku kembali ke kamar, ternyata di kamar sudah berkumpul beberapa orang Mesir yang sedang mendengarkan pak Hasan membaca Qur’an. Tak jarang orang Mesir meneriakkan takbir, ketika di akhir bacaan. Pak Hasan memang jago dalam Tilawah Qur’an. Beliau sering mengngaji sebelum jum’at di masjid-masjid orang Mesir. Beliau juga kerap kali mengisi undangan baca Qur’an di acara-acara orang Mesir. Beliau juga salah satu pendiri IPQI, yang didirikan pada tahun 1996 lalu. Sosok yang berdarah Sulawesi ini juga pernah bekerja di KBRI Kairo. Malam ini beliau akan tampil solo pada pembukaan acara. Makanya beliau latihan di kamar, tak ingin ada kesalahan ketika membaca nanti.
***
Sayup-sayup terdengar dari kamar suara cek sound di luar. Setelah sholat maghrib, kami semua bersiap-siap menuju tenda acara. Setibanya di tempat acara, lagi-lagi kami disambut bak raja yang sangat dihormati, kami ditempatkan di barisan kursi depan. Kuamati dari kejauhan, segerombolan orang sibuk mengatur jalan, karena ada seseorang yang mereka lindungi dari kerumunan penduduk setempat. Orang itu adalah Sayyid Idris. Masyarakat sekitar berebut-rebutan agar bisa bersalaman dengan Sayyid Idris. Fenomena ini sering aku jumpai di Indonesia, tak kala ada pejabat yang datang berkunjung di suatu daerah. Atau ketika ada Da’I kondang yang datang di sebuah perkampungan. Ternyata di mana pun tempat sama saja, gumamku.
Satu persatu kami disalami oleh Sayyid Idris. Kurasakan betapa halusnya tangan beliau. Hanya saja aku tak sempat berpelukan dengannya. Beliau duduk persis di sebelah kiri pak Hasan. Kuamati sekeliling tempat acara, di setiap sudut kudapati kameraman yang meliput acara saat itu. Bahkan di bagian kiri depan, terpajang layar besar yang langsung dihubungkan dengan kamera. Ternyata acara malam itu diliput juga oleh stasiun televise Mesir.
Malam itu cuaca cukup bersahabat. Bintang-bintang pun seolah-olah ingin ikut serta meramaikan acara. Angin yang berhumbus pun tak terasa panas seperti di siang hari. Kulihat di beberapa tempat terdapat kipas angin yang berkekuatan tinggi. Tak lama kemudian acara dibuka. Kemudian sang MC mempersilahkan pak Hasan agar maju ke panggung untuk melantunkan ayat suci al-Qur’an. Malam itu pak Hasan membaca ayat andalannya, surat al-Baqarah ayat 284 hingga akhir surat. Seperti biasanya, suara gemuruh takbir menggema di mana-mana saat pak Hasan membacakan ayat suci al-Qur’an. Berbagai macam do’a dan juga pujian datang untuk pak Haras. Malam itu, tak hanya IPQI yang berbangga hati, tapi juga Indonesia. Nama Indonesia menggaung di langit Darau. Aku pun tak henti-hentinya bersyukur, bisa menyaksikan kesempatan yang langka ini.
Setelah selesai pembacaan ayat suci al-Qur’an, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Salah satunya dari Gubernur Provinsi Aswan. Aku tak menyangka, ternyata acara ini juga dihadiri oleh Gubernur Provinsi Aswan. Semakin bertambahlah kebahagiaanku. Maklum, aku adalah orang desa yang jarang ketemu dengan pejabat. Acara malam itu semakin ramai dikunjungi orang. Baik tua maupun muda.
***
“Hadirin yang berbahagia, kita tampilkan Ibtihalat dari IPQI Mesir” begitulah kira-kira ucap sang MC. Dengan suara merdunya, bang Sholah memulai tampilan kami. Sejak awal sebelum tampil, aku selalu khawatir, takut jika nanti ketika tampil tidak bisa berbuat maksimal. Namun kekhawatiran itu terbantahkan, Alhamdulillah malam itu aku dan kawan-kawan bisa tampil dengan baik dan lancar. Layaknya band-band di Indonesia, ketika selesai tampil, pasti penonton selalu teriak histeris, terharu dan bangga. Begitu juga kami, walaupun aku tak mau disamakan dengan band, masyarakat yang menyaksikan penampilan kami, seketika juga berteriak meneriakkan takbir. Aku benar-benar terharu malam itu.
Acara pun masih berlanjut, mulai dari taujihat dari syaikh-syaikh Azhar, hingga berbagai macam penampilan khas Mesir yang disuguhkan pada malam itu. Tak ada kata-kata yang pantas kuucapkan malam itu, selain memuji kebesaran Allah. Sungguh, suatu keberuntungan bagiku bisa menyaksikan momen yang langka ini.
Akhirnya selesai juga, kulirik jam di handphoneku, ternyata sudah jam 00.45.Wajar saja mataku sudah protes dari tadi, ternyata sudah waktunya tidur. Kurebahkan badanku di atas ranjang. Sejurus kemudian aku terlelap. Tak sadarkan diri.
***
07 Agustus 2009
Hari ini rencananya kami akan berkunjung ke kota Aswan. Kebetulan bang Sholah punya teman di sana. Setelah membereskan kamar, kami pun bersiap-siap untuk berangkat ke kota Aswan. Namun, tiba-tiba saja kami diberi tahu oleh penanggung jawab kami, bahwa malam ini kami diminta untuk tampil di Isna . Seketika muncul kekecewaan di raut muka kami. Terutama aku, karena di antara kami yang belum berkunjung ke kota Aswan hanya aku sendiri. Angan-anganku untuk bisa menyaksikan kehebatan Mesir dalam membuat bendungan yang sangat terkenal di negeri ini jadi sia-sia. Bendungan itu dinamakan The High Dam. Pagi itu kami mengadakan rapat dadakan. Ada yang mengusulkan kita tetap ke Aswan tapi dengan kensekuensi pulang ke Kairo tanpa diantar, alias bayar sendiri. Namun ada juga yang pasrah, karena jika dipaksakan ke Aswan, maka tidak akan bisa pulang lagi ke Kairo. Terutama aku. Aku sama sekali tak membawa uang yang cukup untuk ongkos pulang ke Kairo. Akhirnya kami berempat sepakat untuk tidak ke Aswan. Mulai dari pagi hingga menjelang sholat jum’at, kami hanya bersemedi di dalam kamar. Aku sendiri sibuk dengan handphoneku, berchating ria.
“Sholah, saya pulang duluan ya ke Kairo. Ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Kalian berempat saja di sini. Masalah pulang ke Kairo, nanti mereka yang mengongkosi. Jangan khawatir, insya Allah aman-aman saja.” Ucap pak Hasan pada bang Sholah. “insya Allah saya akan pulang setelah sholat jum’at nanti” tambahnya. Bang Sholah tak banyak berkomentar. Dia hanya berdoa agar dimudahkan perjalanan pak Hasan pulang ke Kairo.
Setelah sholat jum’at, ternyata acara semalam masih ada kelanjutannya. Aku tak tahu apa nama acara itu. Yang jelas jika dibandingkan dengan Indonesia, acaranya mirip seperti acara berzanji, membaca sholawat dengan diiringi dub . Setelah acara selesai, kami saling bersalam-salaman antara satu dengan yang lain. Saat aku bersalaman dengan Sayyid Idris, tak kusia-siakan lagi kesempatan itu untuk memeluk tubuh sang Sayyid. Aku rasakan ada kesejukan tersendiri ketika tubuh ini benar-benar bisa memeluk tubuh Sayyid Idris. Tangannya yang halus dan wajahnya yang teduh, membuat diriku serasa enggan untuk melepaskan pelukan itu. Aku bergumam dalam hati, apakah Rasulullah SAW. dulu juga seperti ini ya? Mungkin inilah jawaban dari kekecewaanku tidak jadi berkunjung ke Aswan.
Seperti biasa, ketika kami kembali ke kamar, jamuan makan siang pun sudah tersedia. Siang itu kami hanya menghabiskan waktu di dalam kamar saja. Karena mau keluar pun cuacanya sangat panas sekali. Mungkin di atas 45 derajat. Aku pun sibuk memainkan keypad handphone dengan jari tanganku, main game. Lelah main game, kulanjutkan dengan chating dan berbalas komen.
***
Setelah sholat maghrib, kami diberitahu bahwa selepas sholat isya’ nanti, rombongan dari Darau, termasuk kami, akan berangkat ke Isna. Dalam benakku terus bertanya-tanya, ada kejutan apa lagi jika nanti sampai di Isna. “bang, berapa lama ya dari Darau ke Isna?” tanyaku. “abang nggak tahu, dek. Kalo yang abang dengar, kita akan melewati Luxor. Jadi kalau dari Aswan, Isna itu setelah Luxor.” jawab bang Sholah.
Luxor adalah sebuah Provinsi yang sangat terkenal dengan Luxor Tample-nya. Biasanya masyarakat Indonesia di sini, jika berwisata ke Luxor, selalu yang dicari adalah kapal pesiarnya. Aku sendiri belum pernah menyaksikan kehebatan Luxor. Hanya saja, jika melihat foto-foto senior yang sudah berkunjung ke Luxor, tempat wisatanya luar biasa bagusnya.
***
“ayo semuanya, kita siap-siap. Kita disuruh menunggu di depan tu” ajak bang Sholah. Kami segera bergegas mempersiapkan diri. Tampak di teras-teras bangunan berkumpul orang-orang tua yang sibuk ngobrol. Aku jadi teringat dengan panti jompo di Indonesia yang dihuni oleh orang-orang tua. Seperti itulah suasana saat itu.
“sebenarnya ini tempat apa ya bang?” tanyaku pada bang Sholah. “abang juga nggak tahu, dek.” Jawabnya. Aku jadi semakin penasaran. Sebenarnya orang-orang tua itu siapanya Sayyid Idris ya?. Apakah mereka masih kerabat Sayyid Idris? Jika bukan, siapakah mereka sebenarnya? Lalu mengapa Sayyid Idris mengumpulkan mereka dalam satu tempat? Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benakku itu sampai sekarang belum aku temukan jawabannya.
Sudah hampir setengah jam kami menunggu. Rombongan pun tak berangkat-berangkat. Aku mulai jenuh. Kulihat jam di handphoneku. 22.10. Benar kata pepatah, “hal yang paling membosankan adalah menunggu”. Menunggu juga sangat melelahkan, seperti dalam liriknya Zilvia “menunggu, sesuatu yang sangat melelahkan bagiku”.
“ternyata kita ini menunggu Sayyid Idris yang lagi di luar” terang bang Sholah. Hufh… Aku hanya bisa pasrah. Menunggu sampai waktunya tiba. Setengah jam kemudin, ada beberapa mobil elit, masuk ke pekarangan rumah Sayyid Idris. Ternyata itu adalah rombongan Sayyid Idris. Akhirnya penantian kami terjawab.
Tak lama kemudian, Sayyid Idris dan rombongannya keluar dari kediamannya. Kami pun akhirnya berangkat juga menuju Isna. Kulirik handphoneku, ternyata jam yang tertera di handphoneku menunjukkan pukul 23.05. Aku bertanya-tanya dalam hati. Jam segini baru berangkat, kira-kira jam berapa ya kami akan tampil? Kayaknya bakalan jadi pertualangan yang seru malam ini, gumamku.
Di sepanjang perjalanan, aku hanya menggerutu dalam hati. Jujur, sebenarnya aku sanggat lelah sekali. Untuk menghibur diriku yang jenuh, aku memanfaatkan eBuddy di handphoneku untuk berchating ria.
***
08 Agustus 2009
Tak terasa sudah satu jam kami berada di perjalanan. Hari pun sudah berganti. Aku selalu bertanya-tanya dalam hati, kapan sampainya, ya? Aku mulai bosan dengan eBuddy, karena sebagian besar teman-teman di forum chating, sudah mulai meninggalkan eBuddy.
Kulihat ke depan, mobil yang ditumpangi Sayyid Idris masuk ke sebuah perkampungan. Di sepanjang tepi jalan, terhampar indah sungai Nil. Menara-menara masjid pun dihiasi dengan lampu warna-warni. Kelap-kelip bintang-bintang di langit pun seolah-olah tidak mau kalah denga lampu warna-warni. Bulan pun tak mau kalah, dialah sang penguasa cahaya malam itu. Dengan kehebatannya, dia bisa menyinari seluruh isi perkampungan itu, bahkan bisa menerangi negeri ini.
Aku mulai melihat sebuah keramaian di ujung jalan. Tampaknya tak akan lama lagi sampai di tujuan. Dugaanku benar. Perlahan mobil yang ada di depan kami mulai berhenti. Kulihat Sayyid Idris keluar dari mobil. Seperti biasa, masyarakat pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu untuk berjabat tangan langsung dengan beliau. Kami pun demikian, ketika kami turun, sebagian orang dewasa menyambut kami dengan ramah. Kudengar di sepanjang jalan menuju tempat acara orang-orang Mesir mengucapkan selamat datang pada kami. Tak jarang orang-orang dewasa maupun anak-anak kecil memanggil kami Shinny . Aku heran, kenapa orang Mesir selalu memanggil kami Shinny. Ketika di Kairo, aku sering dipanggil Shinny oleh orang Mesir. Padalah, jelas-jelas kami orang Indonesia. “ihna musy Shinny, ihna Andunisi ” terangku. Mungkin karena mataku yang sipit ini, jadi orang-orang Mesir sering memanggilku Shinny, padahal mataku tidak sesipit orang Cina.
Seperti halnya ketika kami sampai pertama kali di Embaba, atau di Darau, kami langsung dijamu makan malam. Kulihat jam di dinding rumah, jam menunjukkan pukul 01.10. Yang terlintas dipikiranku, kayaknya kami tidak akan tampil, karena waktu sudah cukup larut malam. Abang-abangku pun berpikiran yang sama. Kami pun menyantap hidangan dengan lahap, tanpa ada beban untuk tampil.
Setelah semuanya selesai menyantap hidangan, Sayyid Idris dan rombongan serta kami meninggalkan rumah menuju tempat acara. Kebetulan jarak rumah yang menyediakan makan malam dengan tempat acara tidak terlalu jauh. Kulihat dari kejauhan, tampak begitu meriah, walaupun kali ini tanpa tenda. Suasananya benar-benar suasana perkampungan. Sound system yang digunakan membuat aku berkali-kali menutup telinga, karena volumenya berkadar tinggi.
***
Acara pun dimulai. Saat inilah kejutan itu kembali terjadi. Kami yang baru saja menyantap hidangan dengan lahap, tiba-tiba diminta tampil. Kami tak sedikit pun mengira akan tampil malam itu. Karena saat itu waktu sudah sangat larut malam. Pukul 01.45. Kuserahkan semunya itu pada keputusan bang Sholah. Bang Sholah pun tampaknya keberatan. Akhirnya dengan sisa tenaga yang ada dan dengan kepercayaan diri yang kuat, kami putuskan untuk tampil. Begitu kami tampil, respon masyarakat yang menyaksikan sangat luar biasa. Walaupun waktu sudah sangat larut malam, tapi masyarakat tetap bersemangat memeriahkan acara itu.
Dengan suara khasnya, malam itu bang Sholah menggemparkan perkampungan yang berada di kota Isna. Kami pun dibuat bersemangat dengan penonton, karena mereka juga sangat antusias sekali menyaksikan kami. Aku lagi-lagi bersyukur dalam hati. Ternyata semuanya itu tidak seperti yang aku bayangkan. Sungguh menakjubkan.
Acara itu berakhir pukul 03.00 dini hari. Kami pun segera pulang ke Darau. Di sepanjang perjalanan pulang, kumanfaatkan waktu itu untuk istirahat. Tak kuhiraukan lagi obrolan orang-orang Mesir yang satu mobil bersama kami. Aku pun mulai terlelap. Tak sadarkan diri.


***
“dek, bangun, kita sudah sampai di Darau” bang Sholah membangunkanku. Tak lama kemudian terdengar suara adzan subuh. Pejalanan malam itu membuatku kelelahan, sehingga setelah sholat subuh, aku pun meneruskan tidurku yang sempat terpotong.
Sayup-sayup kudengar suara orang mengaji. Suara itu sepertinya familiar di telingaku. Kubangunkan badanku, lalu kupicingkan mata sipitku, ternyata pemilik suara merdu itu bang Sholah. Kulihat di sampingnya, orang Mesir yang menjemput kami ketika di stasiun kereta Darau sambil memegang kamera handphone. Ternyata orang tersebut sedang merekam suara merdu bang Sholah. Aku pun sekarang benar-benar sudah terbangun. Kulihat dua abangku yang lain. Bang Edo juga khusyuk mendengarkan lantunan ayat suci al-Qur’an dari suara merdu bang Sholah. Hanya bang Taufiq saja yang masih tertidur.
Kulirik jam di handphoneku. 11.15. Segera kucukupkan tidurku. Lalu beranjak ke hamam untuk bersih-bersih. Karena siang ini, kami akan pulang ke Kairo. Tak terasa, akhirnya akan berakhir juga pertualanganku.
***
“yallah ya gama’ah, ihna nargi’dil wa’ti, yallah bisur’ah ” suara itu memecahkan suasana makan siang kami. “istanna suwayya, ya amm ” jawab bang Sholah. “kita tidak punya waktu lagi, mobil sudah menunggu kalian dari tadi” jelas ammu Hamadah. Ammu Hamadah lah yang bertanggung jawab untuk kepulangan kami. Akhirnya dengan tergesa-gesa, kami meninggalkan kamar. Aku yang baru makan sedikit, tak menyia-nyiakan makanan yang ada. Aku bungkus daging kesukaanku untuk dimakan di kereta nanti. Kejadian ini tidak akan terjadi jika makan siang kami tidak terlambat. Wal hasil, ketika kami sedang makan, jemputan kami sudah menunggu di luar. Dan kuakui, waktu memang sudah sanggat mepet, karena kami harus segera mengejar jadwal kereta.
Kulihat mobil matrix yang menjemput kami beberapa hari yang lalu sudah menunggu. Beberapa menit kemudian kami sampai di stasuin kereta Darau. Panasnya siang itu seperti sebelum-sebelumnya. Sorban yang dipinjamkan bang Sholah kupakai untuk menutupi sengatan langsung matahari. Lagi-lagi angin yang berhembus saat itu, bagaikan api yang membelai tubuh ini. Sungguh begitu panasnya cuaca saat itu. Aku tak habis pikir, bagaimana masyarakat di sini bisa bertahan lama dengan cuaca seperti ini.
Tepat pukul 15.15, kereta perlahan-lahan mulai meninggalkan Darau menuju Kairo.
Tak ada cerita menarik selama di perjalanan pulang, hanya saja ketika sampai di stasiun kereta Isna, ada penumpang yang duduk di sebelah bangkuku. Dan ternyata, orang tersebut adalah seniman yang ikut tampil juga di acara malam itu di Darau dan juga Isna. Dia juga akan pulang ke Kairo. Jadilah, perjalanan pulangku kuhabiskan dengannya. Percakapan demi percakapan pun mengalir bagaikan air Nil. Hingga muncullah pertanyaan itu. “kamu sudah beristri?” tanyanya. Aku yang ditanya pun seketika tertawa. Aku juga heran, wajahku yang masih imut-imut ini kok bisa-bisanya ditanya apakah sudah beristri. Pertanyaan itu aku kembalikan padanya. Dia terdiam beberapa saat, lalu menjawab “belum, saya belum menikah” jawabnya. Lalu kutanyakan umurnya, dia jawab 40 tahun. Dia lalu menjelaskan, bahwa di Mesir ini biaya untuk menikah sangat tinggi. Harus benar-benar matang persiapannya jika ingin menikah. Kuhanya bisa berujar dalam hati “pantas saja sering kujumpai bapak-bapak tua yang anaknya masih kecil-kecil”. “aku sangat tertarik dengan gadis Indonesia” ujarnya. Aku hanya tersenyum. Aku tak ingin meneruskan obrolan ini, aku takut nanti dia akan semakin sedih.
***
“Ziz, ayo turun. Kita sudah sampai di Ramsis” bang Taufiq membangunkanku. “hah! Sudah sampai ya?” tanyaku “lho, orang di sampingku kemana?” Aku tak mendapati orang yang kuajak ngobrol selama di perjalanan. Mungkin dia turun di stasiun sebelum Ramsis.
Kulihat jam di handphoneku, 04.55. Sebentar lagi subuh. Ternyata benar, tak lama kemudian adzan subuh berkumandang. Kami segera sholat di masjid al-Fatah. Masjid yang terbesar di Ramsis.
O ya, aku belum sempat memperkenalkan diri. Namaku Abdul Aziz, biasa dipanggil Aziz. Aku mahasiswa Universitas Al-Azhar fakultas Syari’ah jurusan Syari’ah Islamiyah yang datang ke Mesir tanggal 29 April 2009. Dan baru bergabung dengan IPQI Mesir awal Agustus 2009. Kecintaanku terhadap al-Qur’an lah yang mendorongku untuk bergabung dengan IPQI Mesir, selain aku juga memang punya skil di bidang tarik suara, khususnya Tilawah al-Qur’an.
Perjalanku akhirnya berakhir di Distrik 10, di mana tempat aku tinggal di Kairo. Tak kusangka, di musim panas ini berbagai macam kejutan kudapati. Hujan kejutan rupanya.

Minggu, 03 Oktober 2010

Sahabat

oleh: Wahidul Kholis Assaumi
Seorang sahabat berkata:
Sobat,
Adakah kau tahu, arti persahabatan kita ini?
Adakah kau sadar, persahabatan yang kita bangun ini,
yang kita hiasi di dalamnya
dengan ketaatan kepada Robbul Izzati
nantinya akan berbuah kenikmatan,
akan berbuah syurga!!!
Begitulah sobat,
Aku seketika terhentak,
terharu,

Sungguh! Bagitu mulianya kau, sahabatku
kau ingatkan aku,
ketika ku dalam kealfaan
kau bangunkan aku,
ketika ku terlelap dalam kegelapan

Sobat,
Aku akan senantiasa
Menjaga keutuhan ukhuwah ini
Sampai kapanpun
Sampai kita bertemu
di Jannah-Nya,
aamiiin.

Rabu, 28 April 2010

Refleksi satu tahun meninggalkan Ibu Pertiwi... 28/04/2009 - 28/04/2010

Malam ini sulit bagiku tuk memejamkan kedua biji mataku. Entah kenapa. Tiba-tiba diriku teringat memori satu tahun yang lalu. Yupz, tepatnya hari selasa, 28 april 2009. Hari yang sangat bersejarah dalam hidupku. Tanggal yang tercatat pada Visaku. Tahun yang selalu ku kenang.
Hari di mana aku meninggalkan keluarga, ayah, ibu, adik, saudara, teman-teman, guru-guruku untuk sebuah harapan yang mereka pikulkan di pundakku. Untuk sebuah cita-cita yang aku sendiri tak begitu paham dengan cita-citaku. Ironis memang. Tapi, itulah aku.
Setahun yang lalu aku masih bersama dengan orang-orang terdekatku. Ayahku, ibuku, adikku. Setahun yang lalu aku masih mendengarkan wejangan dari ayakhu. Setahun yang lalu aku masih sering diomelin ama ibuku. Satahun yang lalu aku masih bersenda gurau dengan adikku satu-satunya. Satu hal yang paling melekat di ingatanku, ketika suatu hari, ibuku berpesan: “le, dimanapun kamu berada, kejujuran tetap nomor satu, diinget itu”. Ya, bagitulah kira-kira ibuku berpesan padaku (tentunya dengan bahasa Indonesia, karena di keluarga kami sejak kecil telah ditanamkan tuk selalu menggunakan bahasa Indonesia, walaupun orang Jawa)
Ya, setahun yang lalu aku masih sering marah-marah ama santri-santri di mana tempat aku mengabdi. Setahun yang lalu aku masih sering kena omelan dari Ustadz Ustdzahku di Pondok karena kerjaanku yang suka ngawur (hehe). Setahun yang lalu aku masih sering pontang panting mengurus Kartu keluarga. Karena antara KTP dan Kartu Keluarga terdapat perbedaan yang sangat jauh. Beda daerah. Ya, beda daerah, karena KTP yang aku miliki adalah KTP di mana aku mengabdi. Sedangkan Kartu Keluargaku berada di daerah yang berbeda.
Setahun yang lalu aku mondar mandir mengajukan proposal di dua Kepala Daerah. Ya, dua Kepala Daerah sekaligus. Satunya adalah Bupati di mana aku dan orang tuaku tinggal di daerah kekuasaannya. Kedua adalah Walikota di mana tempat aku mengabdi di Pondok Pesantren yang berada di daerahnya. Namun nasib belum berpihak kepadaku. Tak satupun proposalku diterima. Walaupun pada akhirnya, aku mendapatkan bantuan dari seorang Dokter yang memiliki sebuah Rumah Sakit. Dokter yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dokter yang memiliki Tsaqofah Islamiyah yang cukup memumpuni. Dokter yang sangat peduli dengan pendidikan.
Setahun yang lalu aku berangkat dari rumahku, di sebuah desa bernama Muara Gula Baru menuju Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II). Sebuah desa yang berada di Kabupaten Muara Enim. Kabupaten yang baru-baru ini menjadi bahan perbincangan banyak orang. Bukan hanya warga Muara Enim, namun telah menjadi bahan perbincangan Nasional, bahkan Internasional. Emang apa istimewanya daerah ini??? Beberapa jam yang lalu sebelum aku menulis tulisan ini, aku membaca sebuah berita yang sangat mengejutkan bagi diriku, dan tentunya warga Muara Enim. Ternyata baru ditemukan bahwa Muara Enim memiliki Penghasil Panas Bumu ke Dua di Dunia setelah Amerika. Dan ini memberikan peluang bagi Muara Enim, bahwa Muara Enim akan menjadi Kabupaten Terkaya di Sumatera Selatan bahkan di Indonesia.
Setahun yang lalu aku terbang dari Bandara SMB II menuju Jakarta dengan Lion Air. Setahun yang lalu aku berangkat dari Jakarta menuju Kairo dengan menggunakan jasa penerbangan Emirat dengan terlebih dahulu translit di Dubai.
Setahun yang lalu aku berpisah dengan keluarga dan saudara-saudaraku untuk waktu yang lama. Waktu yang tak semua orang tahu kapan bisa berkumpul lagi. Yang ada hanya sebuah harapan tuk bisa cepet kembali ke Tanah Air dan bisa berkumpul lagi dengan keluarga.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya pada hari rabu, tanggal 29 april 2009, pukul 20.00 waktu Kairo ( waktu itu, Kairo masih sore, karena kalau musim panas waktunya dimajukan).
Namun, setelah satu tahun berlalu, akupun tak merasakan ada perubahan yang berarti. Ya, setidaknya itulah yang aku rasakan saat ini. Satu tahun di Kairo memang terasa begitu cepat. Akupun selalu mengingat-ingat pesan Ustadzku di Pondok, bahwa Kairo itu بين النور و النار ( antara An-Nûn dan An-Nâr ). Di Kairo kita bisa dapatkan semua apa yang kita inginkan. Semua disiplin Ilmu insya Allah bisa kita dapatkan. Apalagi Kairo sangat fenomenal dengan Universitas Al-Azharnya. Universitas yang tertua di dunia. Dan saat ini, Al-Azhar tidak hanya mengajarkan tsaqofah dîniyyah saja. Akan tetapi semua disiplin Ilmu terdapat di Universitas ini.
Di Kairopun bisa juga kita dapatkan النار. Layaknya kota-kota besar seperti Jakarta. Maka di Kairopun tidak sedikit hal-hal yang berbau ma’shiat bisa kita jumpai.
Malam ini, aku mencoba mereview ulang tujuan utamaku datang ke Negeri Para Nabi ini. Mudah-mudahan tujuan awal aku datang di Negeri ini bisa terealisasi dengan baik.
Kairo, 28 April 2010
Pukul : 12.54

Kholish Blog's on Facebook